Opini hadi
Waktu yang tinggal 4 hari menuju HUT Kab Sidoarjo ke-167, publik ingin menyaksikan Bupati Subandi dan Wabup Mimik, duduk bersanding dalan upacara peringatan Hari lahir Sidoarjo.
Namun, sayang harapan itu bisa dipastikan sulit terwujud. Jauh hari, Bu Wabup sudah menegaskan tidak mau hadir diperhelatan hari bersejarah tersebut. Bu Mimik lebih menikmati untuk makan bareng dengan warga Sidoarjo, Selasa Sore ini di pelataran depan Alun-alun Sidoarjo daripada sekedar acara seremonial.
“Teko yo, ojok sampek gak teko lo…mangan bareng sak wareke. Onok kikil, lontong kupang macam-macam masakan lain,” pintanya. Bu Mimik dengan uangnya sendiri membiayai semua kegiatan, juga menyiapkan satu tumpeng besar yang akan dimakan rame-rame.
Itulah secuil kegiatan Bu Wabup yang ingin dihabiskan dengan rakyat dengan mangan dan ngobrol bareng. Tapi kalau untuk hadir di upacafa HUT Sidoarjo, dia dengan lantang menolaknya.
Belum hilang dalam ingatannya, saat tahun lalu tidak boleh hadir dalam upacara HUT Sidoarjo ke-166 Alun-alun. Awalnya petugas protokol sudah memintanya mengenakan pakaian yang disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan upacara.
Namun di detik terakhir, ada perintah bahwa Wabup tidak diijinkan hadir. Glodak.
Saya dapat memahami kepedihan bu Mimik yang kecewa tidak diperbolehkan hadir tanpa sebuah alasan. Apakah ini bentuk intimidasi politik di awal jabatannya sebagai Wabup ? Namun saya dapat merasakan kesedihan Bu Mimik.
Di hari sakral, 31 januari 2026, semua warga harusnya gembira mensyukuri hasil-hasil pembangunan yang sudah dicapai. Tapi sayang kegembiraan terasa hambar, kaku dan dingin setelah pekan lalu turun SPDP Bareskrim tentang dugaan penipuan oleh Bupati Subandi. Bupati tidak tinggal diam, dan akan akan melaporkan balik pihak yang telah melaporkan dirinya.






